 | Intan Arifin | Mar 12, 2007 |
Saya hanya ingin menyampaikan pesan. Disertai doa semoga pesan itu benar tersampaikan. Untukmu, semoga... dapat membantumu menemukan jalan cahaya. Jalan yang sama yang tengah saya cari juga. Jalan yang dinaungi ridlo Yang Di Atas Sana. ------------- Graphics Courtesy of Lisa Wan : http://gal1015.multiply.com/ Created : 10-09-2007 Waktu naskah yang dimuat di La Tahzan - for Broken Hearted Muslimah diumumkan, saya tertegun di depan layar monitor komputer. Nyaris tak percaya, naskah itu akhirnya bisa masuk. Kemudian pikiran saya melayang ke hari-hari ketika saya memutuskan menulisnya. Keputusan yang amat saya syukuri kini.Pertanyaan yang pernah bertempur di benak, melintas kembali satu-persatu.Pertanyaan yang mengganggu bersamaan dengan hadirnya niat untuk menuliskan kisah itu. Pertanyaan yang meskipun hanya berupa dengungan kecil, namun terus-menerus berputar di kepala, tak hentinya membentur dan memantul."Apakah saya telah siap menghadapinya?"Bukan kisah cinta yang indah dan berbunga-bunga. Ini adalah cerita yang menunjukkan - bahwa saya yang dengan sombong dan takabur berulang kali mengaku sebagai perempuan cerdas dan mandiri - ternyata begitu lama terkubur dalam kebodohan diri sendiri.Ketika Mba Asma mengajak saya untuk menulis dengan tema cinta, saya hanya punya cerita ini untuk dituliskan. Seiring dengan niat untuk menuangkan kisah itu, berbagai pertimbangan pun bermunculan dan bertempur dalam benak. Sanggupkah saya mengingat-ingat kenangan itu lagi, mengingat sakit dan letih yang saya alami, agar dapat menuliskannya?Sanggupkah saya membiarkan orang lain mengetahuinya, sementara selama ini saya tak pernah berbagi pada orang lain, bahkan kawan dekat dan keluarga saya sendiri?Bagaimana dengannya dan keluarganya, tidakkah saya membuat mereka sakit hati dengan menuliskannya secara sepihak dari sudut pandang saya, sementara mungkin mereka memiliki pendapat yang berbeda?Apakah harga diri saya mampu menghadapinya, melihat orang lain mengetahui keterpurukan saya, dan kengerian setelah itu - melihat bagaimana tanggapan mereka.Bagaimana jika mereka menyalahkan saya?Mencemooh?Mengasihani?Rasanya saya tidak sanggup. Di kesempatan pertama saat niat itu muncul, saya kalah oleh ketakutan.Beberapa hari berikutnya berlalu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, dengan kekhawatiran, dan prasangka negatif yang mengiringi. Hingga kemudian secercah hal mengusik, mulai dari titik kecil yang kemudian berpendar semakin kuat. Mungkin itu adalah sisi diri saya yang lain, yang kesal dengan kepengecutan yang mengurung pikiran saya saat itu.Sampai kapan saya akan lari?Bukan hanya saya yang pernah merasakan sakit.Saya telah melewatinya, sekalipun dengan tertatih. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan.Berapa banyak saudari saya yang juga pernah luka karena cinta?Berapa banyak yang juga pernah terkurung dalam tiraninya?Apakah mereka juga telah melaluinya?Saya memahami bagaimana sakitnya.Letihnya.Ketakutan akan kehilangan sesuatu, yang justru membuat kita mengorbankan dan menghilangkan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting : keyakinan, kepercayaan, dan integritas diri.Dan mungkin,dengan berbagi pengalaman tentang itu, berarti menyuarakan bahwa mereka - para saudariku - tidaklah berjuang sendirian.Bukan hanya engkau yang merasakan sakit dan letih, aku juga.Bukan hanya aku yang bisa melewatinya, engkau juga.Berbagi keyakinan bahwa kita memiliki kekuatan.Dan selalu ada harapan untuk menang.Akhirnya saya menuliskannya.Dan ternyata, ketika saya menulisnya, saya tidak sekadar sedang berbagi kekuatan dengan orang lain. Saya juga sedang menumbuhkan kekuatan dalam diri saya sendiri. Kekuatan yang membuat saya tidak lagi berlari dari masa lalu dan berani mengakuinya sebagai bagian dari diri saya saat ini.Seseorang pernah berkata pada saya,"Jalan yang tegak! Dunia itu ditatap! Tunjukkan bahwa kamu punya cita-cita! Karena itulah semangat yang akan membuatmu hidup.""Ya,Aku siap menghadapinya.Bukankah engkau pun begitu, Saudariku?" | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Asma Nadia dkk |
Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta? Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?
Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta? Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?
Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta. Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih. Luka yang beakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi.
Atas dasar itulah buku ini hadir. Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengan kesedihan akan cinta.
Selalu ada jalan terbentang, selalu ada kemungkinan untuk menang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Muslimah.
La Tahzan....   | Lail | Apr 10, '08 10:39 PM for everyone |
Terang telah lama berpulang Membumikan keriuhan yang bertabuh di berandanya
Aku pun luruh, turut dengan terang, berpulang
Kilauan airmatamu Serupa ribuan titik permata Meraihku
Keelokanmu Serupa hamparan beludru Memelukku
Seketika cinta menghentakku dalam jaga
Tentu kekasihku, Aku mendengar panggilanmu
Pada pemilik malam Bersamaku, Semesta membisik merdu :
"Izinkan kami menghadapMu" Suatu siang dalam liburanku di rumah kakek, aku menghampirinya dan bertanya.
"Menurut Kakek lebih hebat yang mana, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"
Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal.
"Apa itu cerdas?" tanyanya.
"Pandai berpikir." jawabku.
Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"
"Suka bekerja." jawabku lagi.
"Kemarilah." Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan. "Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?"
"Mobil."
"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?"
"Mm... Roda."
"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?"
Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok."
"Mengapa demikian?"
"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi.
Kakek tersenyum.
"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya,tugas yang harus selalu ia lakukan. 'Kemudi' adalah 'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri."
"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.
"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.
"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju." sahutku ragu-ragu.
"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?"
Aku memandang kakek.
"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."
Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"
Aku menggeleng.
"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek. "Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku. "Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas, atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain. Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata. Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia."
Kakek menatapku dengan bijak.
"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"
"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.
------------------------------------- http://intanarifin.multiply.com Ibu selalu begitu. Ia menyuruhku belajar sepanjang waktu. Padahal ia tahu, aku tak pernah suka buku.
Ibu selalu begitu. Ia menyuruhku membersihkan seluruh isi kamarku. Padahal ia tahu, semua akan kembali berantakan di waktu bermainku.
Ibu selalu begitu. Selalu adik yang ia bela. Padahal ia tahu, aku yang lebih dewasa dan lebih punya kuasa.
Ibu selalu begitu. Dengan kemarahan di setiap potong sayuran yang kusisakan. Padahal ia tahu, jika sayuran itu enak tentu akan habis kumakan.
Ibu selalu begitu. Menyuruhku tidur saat acara televisi sedang begitu ramainya. Padahal ia tahu, semua teman-temanku menontonnya.
Ibu selalu begitu. Padahal aku menyapu untuknya. Padahal aku bangun pagi karenanya. Padahal aku belajar, merapikan mainanku, mengalah pada adikku, memakan semua sayuranku, pergi tidur di waktu semua orang terjaga.. semua demi dirinya.
Lalu ayah datang dan aku mengadu, "Ini tak adil untukku."
Ia kemudian tersenyum dan bertanya, Siapa yang membantumu mengerjakan tugas ketrampilan menyulam?
Siapa yang selalu meletakkan coklat crispy di lemari es bahkan setelah habis kau makan?
Siapa yang memastikan selalu ada baju yang bersih untuk kau pakai dan makanan yang baik untuk kau makan?
Siapa yang berjaga semalaman di sisimu tatkala kau sakit?
Siapa yang telah mengijinkanmu berada di perutnya selama berbulan-bulan dan bertaruh nyawa melahirkanmu ke dunia?
Siapa yang menggendongmu, memberimu makan dan minum pertama kali, membantumu duduk, merangkak, hingga berdiri?
Aku tahu, semua jawabnya Ibu.
Anakku, baginya yang telah mengajarkan kata-kata untukmu berbicara, adilkah jika yang kau berikan untuknya kalimat itu?
Ayah... aku berkata dan menatap matanya, "Itu tak adil untuknya." Akhirnya saya berhasil juga memaksakan diri duduk di depan komputer. Untuk kesekian kalinya mencoba menetapkan hati, berbisik kuat-kuat di dalam diri, "Saya ingin menulis."
"Saya ingin menulis."
Kata yang sama yang saya ucapkan lewat setahun yang lalu, saat untuk pertama kalinya memiliki impian yang begitu menggebu : Menjadi seorang penulis yang benar-benar penulis.
Kata yang diiringi janji untuk melakukan hal-hal yang nyata, agar impian itu secara bertahap terwujud menjadi kenyataan.
Janji bolehlah terucap, tapi waktu telah membuktikan bahwa kemalasan dan ketidakkonsistenan saya lebih banyak menjadi pemenang. Atas nama bermacam ragam alasan - pekerjaan menumpuk, perjalanan luar kota, kesibukan keluarga, dan sebagainya, dan sebagainya.... - alasan yang sebenarnya saya bangun untuk membela dan memaafkan diri karena terlalu banyak mengingkari ikrar yang saya deklarasikan sendiri.
Kecewa? Jelas iya. Kecewa karena kerugian yang disebabkan oleh kesalahan sendiri.
Seharusnya dalam waktu setahun itu ada banyak hal yang dapat saya tulis. Ada banyak kesempatan yang terabaikan. Ada banyak pengalaman yang terlewatkan. Ada banyak serpihan ide yang akhirnya melayang pergi karena tak segera ditindaklanjuti.
Setahun telah berlalu. Apakah setahun yang akan datang saya masih juga akan menuliskan kesalahan ini? Tidak. Saya tidak mau.
Janji ini harus ditunaikan, bagaimanapun sulitnya. Rasa malas ini harus dilawan, bagaimanapun caranya.
Hutang harus dituntaskan.
Cause promise is an owe. I have made it. So I am the one who have to fulfill it.
"My Rabb..Let me do it. I wanna write." Alia mengibas-ngibaskan majalah di tangannya dengan gelisah. Udara siang itu begitu panas, apalagi di dalam angkot yang terjebak macet. Entah berapa lembar tissue sudah dipakainya menyeka peluh. Kemeja seragamnya pun sudah terasa basah.Mungkin tak akan seberat ini jika ia dalam keadaan biasa. Dengan botol air mineral yang selalu tersimpan di dalam tasnya. Lumayan lah, ada yang bisa dipakai mengganti cairan tubuh yang menguap.Tapi ini bulan puasa. Bukan bulan biasa.Alia mengeluh melihat pedagang asongan yang melintas di sela-sela macetnya jalan raya, membawa baki berisi beberapa bungkusan plastik es buah, lengkap dengan sedotan yang menjulang dari dalamnya. Plastik-plastik itu terlihat jelas mengembun, melawan teriknya Jakarta. Alia merasa seluruh keteduhan dunia berada di dalamnya.Keluhnya makin menjadi tatkala dia melihat tangan-tangan terjulur dari dalam mobil dan angkot, mengulurkan lembaran uang pada pedagang asongan itu, yang dibalas dengan sebungkus plastik yang - dia tahu - menjanjikan kesejukan.Apa mereka tidak puasa?Apa mereka tidak bisa menghormati orang yang berpuasa?Apa mereka tidak tahu ini bulan apa?Ini bulan puasa. Bukan bulan biasa.Alia memandang iri pada mobil yang bersisian dengan angkotnya. Di dalam kendaraan yang juga sama terjebaknya dengan yang dia naiki itu terlihat seorang anak lelaki dengan seragam SD sedang memainkan handphonenya. Duduk dengan nyaman, di dalam kendaraan yang tertutup rapat, tanpa menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat pada udara yang terasa memanggang ini. ACnya pastilah double blower.Alia semakin iri saat mobil itu dan mobil-mobil lain di deretan sampingnya mulai bergerak perlahan. Satu..dua..mobil-mobil di sisi itu terus melintas, walaupun perlahan namun pasti, meninggalkan angkotnya yang masih tetap tidak bergeser dari tempatnya semula. Klakson mulai bising diteriakkan, para pengemudi itu tak sabar, meminta keadilan.Kami juga ingin jalan.Alia berteriak dalam hatinya. Dia sibuk menjulurkan kepalanya, tapi yang tampak olehnya hanya deretan kendaraan di depannya. Sedikitpun tak tampak penyebab simpul kemacetan itu. Ada apa sih dengan hari ini?Yang dia tahu, ini bulan puasa. Kata mereka, bukan bulan biasa.Memang bukan.Bukan main panasnya.Bukan main mengesalkannya.Bukan main laparnya, lelahnya, hausnya...."Kakak..."Alia nyaris melompat karena terkejut. Seorang anak laki-laki meletakkan kepalanya persis di jendela angkot yang terbuka lebar di belakang punggung Alia. Anak itu meringis, menunjukkan giginya yang kehitaman dan keropos termakan gula.Alia memperhatikannya. Umurnya mungkin sekitar 6 tahun. Kulitnya legam terbakar matahari. Rambutnya kering kemerahan.Anak itu masih meringis dan menyandarkan dagunya di jendela angkot.Oh, Alia menyadarinya. Ada yang dibawa anak itu. Tas kresek putih transparan berisi bungkusan kecil-kecil dengan isi sesuatu yang kecoklatan. Anak itu mengangkat tas kreseknya mendekat ke arah jendela. Alia bisa melihatnya. Kurma."Seribu kak.. beli ya."Alia diam saja."Berapa itu seplastiknya?" Seorang ibu yang duduk di depan Alia mencondongkan badan melihat isi tas kresek itu."Seribu.""Ya bolehlah. Minta dua. Kalau macetnya begini saya nggak sanggup lagi buat turun mampir beli kurma." Kata ibu itu sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Lalu mengambil selembar sepuluh ribuan dan mengulurkannya pada si anak, yang menatap uluran tangan itu."Dua ribu." kata si anak."Nggak ada yang kecil."Alia melihat betapa repotnya anak itu. Menerima uang sepuluh ribuan itu dalam genggaman satu tangan sementara tangan lain masih memegang tas kresek. Mengambil dua plastik kurma dan menyerahkannya pada si ibu. Lalu menatap uangnya dengan bingung."Kembalinya berapa ya Kak?"Dan kemudian mengeluarkan gumpalan hijau kumal dari kantongnya, yang belakangan disadari Alia sebagai uang, yang semuanya ribuan."Kak?""Oh.." Alia tersadar dan menatap mata bening di depannya. "Kembali delapan ribu."Anak itu menghitung gumpalan uangnya "Satu, dua, tiga..." Saat mencapai angka delapan dia berhenti dan mengulurkan segenggam gumpalan pada ibu yang membeli dagangannya."Ini uang kok diuwel-uwel. Lain kali dilipat begini ya, jangan diuwel-uwel. Biar rapi, sayang kan uangnya." Ibu itu mengurai satu gumpalan dan mencontohkan melipat lembarannya menjadi dua.Anak penjual kurma itu mengangguk. Mengeluarkan gumpalan uangnya dan melurus-luruskannya, lalu melipatnya menjadi dua satu persatu."Ditumpuk dulu baru dilipat." koreksi Alia."O.."Dengan mulut masih berbentuk 'O', anak itu melurus-luruskan lagi uangnya, menumpuknya, kemudian melipatnya. Setelahnya ia nyengir lebar ke arah Alia."Kalau nggak ada yang ngasih tahu berapa kembaliannya, gimana?" tanya Alia."Pasti ada yang ngasih tahu kok.""Kamu nggak bisa hitung uang?""Kalau uangnya ribuan semua bisa. Tapi kalau ada uang besarnya aku bingung.""Terus gimana, penjual kok nggak bisa ngitung. Memangnya nggak sekolah?""Enggak, emak nggak punya duit. Nggak papa, nanti lama-lama kan bisa. Emak juga nggak sekolah tapi bisa jualan di pasar." katanya mantap."Asik..laku banyak. Emak bakal senang." Anak itu bicara pada lipatan uang di tangannya.Alia memandangnya. Alia bisa melihat butiran peluh di dahinya. Tapi tak ada keluh ataupun iri. Yang ada sinar bahagia yang memancar bening dari matanya, karena berhasil mendapatkan rizki. Tiba-tiba ada tanya yang menggelitik hati Alia."Puasa enggak?""Ya puasa dooooong..." jawabnya seru dengan mulut kembali membentuk 'O' panjang."Nggak bo'ong?""Yah, gimana sih, puasa itu kan wajib. Apalagi laki-laki, kata emak nggak boleh bolong." "Kenapa puasa?""Supaya Allah sayang sama kita. Ni buktinya Allah sayang, jualanku dibeli orang." anak itu menunjukkan uangnya."Kalau nggak ada yang beli?"Anak itu terdiam sejenak. Berpikir."Kalaupun Allah nggak memberi, bukan berarti nggak sayang. Punya kaki untuk berjalan, punya tangan untuk memegang, semuanya Allah yang kasih. Dan...aku punya emak. Si Rimbul, si Gori, si Karim nggak tau siapa emaknya. Betapa sayangnya kan Allah sama aku."Mata beningnya berbinar dengan penuh semangat."Atau.. uangnya lagi ditabung Allah, trus nanti dikasihkan aku kalau udah banyak.""Emang mau buat beli apa?" Supir angkot angkat bicara sambil mengedik pada si anak melalui kaca spionnya. "Beli karcis nonton konser di alun-alun?""Karcis ke surga, meeeeeen!" Sambil berteriak, anak itu berlari menjauh, menyusuri celah di antara kemacetan, menemukan angkot lain, dan meletakkan dagu di jendelanya.Alia tertegun. Dari jauh dilihatnya tangan-tangan terulur mengangsurkan uang dan menerima plastik-plastik kurma.Berapa panasku yang bernaung di dalam sini dibandingkan panasnya yang tersentuh sengat matahari di luar sana?Berapa lelahku yang duduk di dalam sini dibandingkan lelahnya yang berlarian di luar sana?Bagaimana mungkin aku meluapkan keluh dan iri padaMu jika ada yang seharusnya lebih layak mengeluh dan merasa iri dibandingkan denganku, namun sedikitpun tak teruntai celanya untukMu?Alia merasa malu.Pada dirinya. Pada anak itu. PadaNya Yang Di Atas Sana.Dan sudut matanya menangkap sosok anak itu berlari mendekat lagi. Meletakkan dagunya di jendela di punggung Alia."Kakak.." Ucapnya sambil mengangsurkan seplastik kurma pada Alia. "Yang lain sudah laku. Tinggal satu ini, buat Kakak.""Kok..Kenapa?""Kakak sudah bantu aku hitung kembalian." Alia membeku. Anak itu menjulurkan tangannya melewati jendela dan meletakkan plastik kurma yang dipegangnya di atas pangkuan Alia."Ini bulan penuh berkah. Kata Emak, kita harus berbagi kebahagiaan."Seringainya melebar, sebelum kemudian berlari menghilang ke tepian jalan yang sudah tak dapat ditangkap pandangan mata Alia lagi.Bumi meneduh.Tiba-tiba.Alia merasa seperti mengembun.Hatinya didera kesejukan luar biasa.Allah, inikah kebenaranMu?Ya, kini ia mengerti.Ini bulan puasa. Bukan bulan biasa.Karena ini Ramadhan.Bulan penuh berkah.Bulan yang terindah.
------------- Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com
Aku kadang sedih.. Saat engkau begitu sibuk dan terasa melupakanku. Tapi ketika kau lewat di depanku sembari menyapa, duka itu sirna seketika. Aku kadang sedih.. Ketika waktumu penuh oleh orang lain dan terasa tak ada ruang bagiku di situ. Tapi saat kau datang ke depanku walau hanya 5 detik saja, rasanya matahari pagi terbit dalam hatiku. Aku kadang sedih.. Karena berbagai hal bodoh yang kupikirkan tentangmu. Tapi tahukah kau? Justru kebodohan itu ada karena aku mencintaimu. --------------- Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com Suatu hari, seorang ahli “Manajemen Waktu” berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya. Dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekira selusin batu berukuran segenggam tangan, dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples. Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah.” Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga ke rikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah penuh?” Kali ini para siswanya hanya tertegun, “Mungkin belum”, salah satu dari siswanya menjawab. “Bagus!”, jawabnya. Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” “Belum!” serentak para siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata, “Bagus!” Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya, “Apakah maksud dari ilustrasi ini?” Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya” “Bukan”, jawab si ahli, “Bukan itu maksudnya”. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa: Kalau kamu tidak meletakkan batu besar itu sebagai yg pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yang kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (kerikil dan pasir) dalam waktumu maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting (batu-batu besar) dalam hidup. Dikutip dari mailing list R@ntau-Net; Carito lamo dan Batu-baru besar. Telah di sunting seperlunya tanpa mengubah makna.
"Pergi dulu, ya." Ayah berpamitan. "Iya, hati-hati." Bunda melepasnya di pintu. Brrmm... Mesin mobil dihidupkan. Ayah mengoper persneling ke gigi satu, perlahan menginjak gas, dan mobil merambat keluar dari garasi. "Zleg!" Mobil melindas sesuatu. Jantung Ayah berhenti berdetak sesaat. Detik berikutnya Ayah melompat turun dan melongok ke bawah mobil. 4JJI. Kucing kami terlindas. Secepat kilat Ayah mengangkatnya, membawanya ke teras dan membaringkannya. Secara kasat mata tidak tampak luka yang parah, hanya luka-luka lecet kecil. Tapi sesuatu memberitahu hati kecil Ayah, bahwa kucing itu menderita luka dalam yang parah. Bunda bersimpuh di sisi Ayah, memegang bahunya. Mereka tidak dapat berkata-kata. Kucing itu masih hidup, dan matanya berpendar lemah. Nafasnya satu-satu. Tak berapa lama, nyawanya meninggalkan raga. Air mata Ayah tumpah. Lelaki yang selama ini dikenal dengan ketegaran dan kegagahannya menjadi nakhoda kapal yang ditumpangi keluarganya, tidak pernah terpuruk bagaimanapun kapalnya berayun dihantam ombak samudera. Bunda juga. Tidak mampu menahan derainya. Wanita yang selama ini dikenal dengan ketabahannya menjadi tiang penyangga hati anak-anaknya, tidak pernah mengeluh bagaimanapun letihnya mengiringi derap para satrianya, semenjak kaki kecil mereka menapakkan langkah pertama, hingga mampu mengepak sayang di angkasa. Ayah membawa kucing kecil itu di dalam mobilnya. Tidak ada tempat untuk mengubur di rumah. Rumah kami tidak memiliki pekarangan tanah. Nyaris semua bagian tertutup semen. Ayah membawanya ke kantor. Di belakang kantor ada tanah kosong. Mungkin bisa untuk menguburnya. Ayah mengendarai mobil dengan gundah. Rasa bersalah menekannya dengan berat. Di tengah perjalanan, Bunda menelepon. Setelah menjawab salam Ayah, Bunda mendekatkan teleponnya pada kucing kecil kami yang lain, saudara kandung kucing malang yang terlindas tadi. Dia terus mengeong-ngeong dengan sedih. Mungkin dia mengerti, bahwa kini dia tinggal sendiri di dunia ini, karena saudara satu-satunya telah pergi. Ayah tidak sampai hati menguburnya. Dia memanggil penjaga kantor dan memintanya menguburkan kucing kecil kami dengan baik. Ayah terlalu sedih untuk mengantarnya ke tempat peristirahatan selama-lamanya. Hari itu rasanya berlalu demikian panjang. Ayah melaluinya dengan resah. Bunda menantinya dengan gelisah. Saat matahari tergelincir, mereka berdua berdiri di pintu kamarku. Aku yang baru saja terjaga dari tidur karena kelelahan sepulang sekolah, menatap mereka dengan bingung. "Ada apa?" tanyaku. Terbata-bata. Penggal demi penggal. Ayah menceritakan semuanya. Kucing kami yang kecil. Yang lucu. Yang bahkan belum sempat kunamai. Hatiku merasa perih. Menangis? Marah? Menyalahkan Ayah yang tidak memeriksa kolong mobil sebelum melajukannya? Menyalahkan Bunda yang tidak teliti menjaganya? Kemudian aku tersadar atas sesuatu. Kucing kecil kami yang sangat lucu. Ayah sangat menyayanginya. Pun Bunda. Kami semua. Kami ingin dia selalu ada di dekat kami. Selalu bersama. 4JJI pun pasti menyayanginya. Karena itulah Dia mengambilnya. Karena ingin mendekatkan kucing itu padaNya. Adakah tempat yang lebih baik dari tempat yang baik di sisiNya? Apakah kucing bisa masuk surga? Aku tak tahu. Nanti aku akan menanyakannya pada Bunda. Nanti. Kalau rasa sedih ini bisa sepenuhnya kuatasi. Yang jelas, saat ini aku duduk dan berdoa untuknya. Semoga 4JJI memberikannya tempat yang nyaman. Semoga 4JJI tidak membiarkannya kesepian. Semoga. --------------------------------------- cerita Rozan, teman kecilku. Selasa 280807, 18:54 Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com ":) Hei.. U're not alone, My Dear. Things happen. So what... Me, I'm fine now (Thanx to You), and I know, You'll be ok too. Ga tau deh kenapa kita dikasi drama sehebat ini.. :) Tapi beberapa orang memang terlahir dengan bakat pintar menyakiti ya. Misi mengejar bahagiaku dah mulai ni. Kamu juga. Aku utang 1. Anytime kamu perlu orang buat maki2... :)" Sahabatku tercinta, mengirimkannya padaku semalam. Membalas pesan yang kukirimkan lebih dahulu padanya, bahwa aku telah sembuh dan membaik, dari luka yang berdarah selama beberapa waktu ini. Yang membuatku nyaris kehilangan hati, nyaris kehilangan mimpi. Hari-hari kemarin, aku berulang kali bertanya, 4JJI.. 4JJI-ku.. apa yang Kau inginkan dariku? Kau berharap aku menjadi manusia seperti apa? Membawaku ke jalan yang demikian berat, hingga aku kehilangan rasa tulus pada senyuman, kata hati pada tulisan, melalui banyak pagi dengan mata bengkak, melewati banyak malam dengan tiada terpejam. 4JJI.. 4JJI-ku.. telah kutumpahkan semua kesah di bawah langitMu, beberapa kemarahan, beberapa penyesalan, dan beberapa deraian air mata di waktu-waktu itu. Berkali pula mendera, 4JJI.. 4JJI-ku.. Kau sedang menempaku menjadi manusia seperti apa? Dini ini, saat terbangun. Berdiri di sisi jendelaku. Melihat gugusan bintang tergantung di angkasaMu. Menyadari aku masih hidup, bernafas, dan berdiri, dengan cinta yang sama dalamnya untukMu, seperti saat pertama hidayahMu menyentuhku. Aku pun mengerti. Bahwa Kau menginginkanku menjadi seorang yang kuat. Yang menghadapi dunia dengan gagah. Dan melampaui ujian dengan tabah. Bahwa aku tak akan kalah. Dan akan melanjutkan langkah. Selamat datang pagi. Selamat pagi hati. Senang, bisa menyapamu kembali. :: Untuk Sagita, dan Leila, sahabat-sahabat terbaikku. Yang memiliki keberanian dan kekuatan itu jauh sebelum aku merintis jalan mencapainya. Yang sudi berbagi kisah mereka. Yang lahir, tumbuh, dan hidup di dunia yang berbeda denganku, namun memiliki kepala yang sama kerasnya sepertiku. Terima kasih untuk semua makianmu. Memukul keras, namun dengan kejujuran yang sangat. Aku begitu menghargainya. Semoga 4JJI meridloi kalian semua. -------------------------- Senin, 200807, 22:30 Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com  | Leila | Aug 20, '07 1:49 AM for everyone |
Aku tidak pernah merasa gelisah seperti ini sebelumnya. Selarut ini belum juga dapat memejamkan mata. Padahal awal minggu kemarin saat dihimpit masalah - yang juga berat menurutku, aku masih dapat tidur. Kali ini tidak. Mataku tidak mau kehilangan cahaya. Aku tahu aku tidak akan tidur sebelum engkau tidur. Leila, sahabatku. Hari ini mungkin adalah salah satu hari terpanjang dalam hidupmu. Prasangka, tekanan, dan tuntutan mereka akhirnya memuncak, menjadi intimidasi tiada henti kepadamu. Aku tak tahu bagaimana kau bisa demikian tabah mengatasinya. Sms, dering telepon yang seolah tak berhenti, semuanya dengan kata-kata yang aku tahu, pasti melukaimu. Leila, mengapa baru kemarin malam kau menceritakannya, sehingga tak memberiku kesempatan untuk turut membantumu. Baiklah, aku tahu, aku tak punya kuasa apapun untuk membantumu. Dan aku tahu hatimu sangat kuat sehingga tak memerlukanku sebagai penopangmu. Aku hanya ingin turut merasakan bebanmu. Yang telah kau tanggung, dan kau pikul sendiri selama ini... Leila, saat aku melihatmu, aku tahu bahwa aku tengah memandang salah satu orang paling berani yang pernah kutemui dalam hidupku. Seringkali aku menatapmu iri, sambil bertanya-tanya pada hatiku, kapan aku dapat memiliki keberanian seperti itu. Leila, sahabatku. Selama ini aku selalu menumpahimu dengan keluh kesah, ratapan, dan air mata yang mungkin akan tertampung beberapa galon jika kau mengumpulkannya. Beberapa perselisihan kita, yang ditimbulkan oleh pola pikir dan sifat yang berbeda, tak pernah mengacaukan ikatan kita. Perselisihan yang berkualitas, kau menyebutnya dalam perspektifmu, perselisihan yang didasari oleh argumen bermutu yang memperkaya pemikiran kita, dan membuat kita semakin dewasa. Di akhir perselisihan itu, kita selalu menemukan solusi yang kita sepakati, persamaan universal tanpa perlu mengubah ke-khas-an masing-masing, dan merayakan "berbaikannya" kita kembali dengan tawa. Tapi hari ini... Kau mengatakannya saat masalahmu telah bergulir sebesar ini, di luar yang bisa aku, kau, kita atasi. Aku tak dapat tidur malam ini, mengingat kau berada di sana, berusaha keras menyelesaikannya, dengan "ku" disini tanpa dapat berbuat apa-apa. Sahabat bukanlah barang pajangan, yang kau ingat di saat senang dan kau abaikan di saat sulit. Walaupun hanya sebuah kata, sepatah saja, aku ingin mendengar keadaanmu, memastikanmu bertahan di sana. Aku tahu kau kuat. Dan tak akan kalah oleh hidup. Aku hanya ingin kau tahu. Walau seluruh dunia menentangmu, aku tak akan beranjak selangkahpun darimu. ----------------------- Sabtu, 22:49 WIB. Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com Sesuatu yang terindah Untukmu.. Tidak terdengarkah? Lantunannya mengalun seiring nafasku Isi syairnya kutulis dengan dzikirku Sesuatu yang terdalam Terpendam aman.. Tidak tersampaikankah? Yang hanya terucap saat sujudku On this way He sent me No matter it may wander On this way I will be (Ke jalan ini Dia menuntunku Tiada peduli bagaimanapun berliku Di jalan itu kuteguhkan hatiku) It's not that unusual When everything is beautiful It's just another ordinary miracle today
The sky knows when its time to snow You don't need to teach a seed to grow It's just another ordinary miracle today
Life is like a gift they say Wrapped up for you everyday Open up and find a way To give some of your own
Isn't it remarkable? Like every time a raindrop falls It's just another ordinary miracle today
Birds in winter have their fling And always make it home by spring It's just another ordinary miracle today
When you wake up everyday Please don't throw your dreams away Hold them close to your heart Cause we are all a part Of the ordinary miracle
Ordinary miracle
Do you want to see a miracle?
Its seems so exceptional Things just work out after all It's just another ordinary miracle today
The sun comes up and shines so bright It disappears again at night It's just another ordinary miracle today
It's just another ordinary miracle today | An Ordinary Miracle | | | | Sarah McLachlan | |
Suatu siang di masa lalu, saat aku tengah berlibur di rumah kakek, aku menghampiri beliau yang sedang melukis di atas kanvas. "Apa yang kakek dapat dari melukis?" Kakek berbalik dan menatapku, lalu mengambil satu kanvas kosong berukuran kecil. "Katakan apa yang ingin kau gambar?" Aku berpikir sejenak. "Sekuntum bunga." Kakek mengambil pensil dan mulai membuat sketsa. Sekuntum bunga. "Nah, berikanlah warna." Aku mengambil kuas dan palet kakek, lalu mulai mewarnai. Pertama kelopaknya, lalu tangkai, daun, dan terakhir aku memberi warna latar belakangnya. "Sudah selesai." kataku bangga sambil melihat-lihat hasil karyaku. "Bagaimana hasilnya menurutmu?" tanya kakek. "Bagus." "Kurang rapi pada tepi gambar bunga." kata kakek. "Itu karena sulit mewarnai latar belakang dengan tepat tanpa menyentuh gambar bunganya." kilahku. Kakek tersenyum. "Apa yang kau dapat?" Aku melihat padanya. Apa yang kudapat? "Tentu saja sebuah lukisan gambar bunga." jawabku. "Kau memusatkan perhatianmu pada bunga, menganggapnya yang terpenting, kemudian memilih melakukan hal-hal tidak penting - seperti memberi latar belakang - setelahnya. Jika kau membalik sudut pandangmu, dengan memberi warna latar dulu baru mewarnai bunganya, maka cat tepian bungamu tidak akan rusak seperti sekarang." "Seringkali dalam hidup kita terlalu memusatkan diri pada hal-hal yang kita anggap penting dan mengabaikan yang lainnya. Padahal untuk menjadikan hal yang kita anggap penting ini berjalan sempurna, perlu hal-hal sepele yang harus dilakukan lebih dahulu dengan perhatian yang sama baiknya." Ada banyak pelukis hebat yang memilih menyelesaikan objek utamanya baru mengurus latarnya, aku tahu. Namun pelajaran yang kudapat hari itu bukanlah tentang mana yang seharusnya lebih dulu - mewarnai objek utama atau mewarnai latarnya. Yang kudapat adalah, bagaimana menentukan prioritas dalam hidup kita. Seorang pelari atletik memandang pita garis finish sebagai tujuan besar dalam hidupnya. Namun ada hal lain seperti sepatu yang nyaman, dengan tali yang terikat sempurna yang harus dikerjakan lebih dulu agar dia bisa berlari di lintasannya. "Untuk menjadikan hal yang kita anggap penting ini berjalan sempurna, perlu hal-hal sepele yang harus dilakukan lebih dahulu dengan perhatian yang sama baiknya." ------------------------ Kamis, 06 Juni 2007 pukul 23.12 WIB Terinspirasi oleh lukisan adik saya yang tergantung di dinding kamarnya. :) Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com  What's in a name? Shakespeare asked it. What's in a name? Maybe for them who firstly know me by this name, they never thought it. But what about friends who always call me by my real name - the one I spell at the first meeting some years behind? This is a letter to a friend, when I introduce another me - that he has never known before. ----------------------------------------- Assalamu'alaikum Wr. Wb. Hi, how are you? I'm fine, Alhamdulilah. :) And I hope so do you. Just wanna share some things. I have thought it and decided that you'd better know it. Formerly, I wanna share this directly in our upcoming meeting, but it still seemed uncertain - so I choose to share this by mail. I hope it doesn't matter. ^_^ You probably ask "Why the sender of this mail titled Intan Arifin?" Because you know me not by that name. :) There were meaning behind that name. Then by this name, I invite you to enter my world. Some part of my world - part that still not built completely yet, because I still work on it, design and develop it, to become a world as drawn in my mind. I write under the name of Intan Arifin. And looking forward to be professional writer. Why I use that name? The first word "Intan" is brought by the idea that the reflecting shine of diamond will never be vanished. Eventhough they burry it in the pond of mud, diamond will still be diamond. Shine that can't lie. I wanna be like that. Too high vision? Maybe, but how could we know how high it is if we never try to climb? :) The second word "Arifin" come just the way - or maybe it inspired by the character Arifin in the Siti Nurbaya series (a little maybe - I like him ^_^) that broadcasted by our national television so long time ago? While I try to suit some word so it make a good sound, this word appear. I love that name, sound good (I don't even know the meaning of Arifin - wishing it not pointed to an ugly translation ^_^). Maybe if I have a son I will give him that name. I even thought to make stories with Arifin as the character. And I'm writing it. Later you can read, but of course it's better to be read after I finish it. :) I made blog. You haven't heard it, because I think I have to make clear of some things before giving you the address. This blog is made for purpose - encourage me to write, and share it with the visitor. But I do put photos, musics, and my calendars. I'm affraid of Yahoo Messenger, you have known it. I worry it will leave bias interpretation on you - as you have ever told me about your unlikeness to Friendster, as a kind of blog with photos. Why me, which is affraid of Yahoo Messenger, can have a blog? Where is the commitment of sentences I made? I don't like chatting. Firstly, maybe because I spend too many times with computer and books so I have only little time to interact with people, it impact me - I'm not so good in direct communication, especially speaking person to person. I mean here is 'speaking some things without clear purpose'. ^_^ While YM - is built on the concept of direct communication. Secondly, because one of YM characteristic is 'real time', it often attacks me when suddenly a 'BUZZ' blowed up and leaved me with guilty feelings when i don't replied it. So that's why mostly I choose invisible status - in my rarely YM online, and chat only with person I really want to communicate. Thirdly, YM full of people - while I unable to see their face. You may say, it's equal with SMS. But somehow, I don't know, it's still difficult for me. I'm not comfortable with chatting. This symptops has been appeared since MIRC era (so long time ago), ICQLite, Jabber, YM, and many latest models - I don't know it well. Sure it's not always happen in that way, sometimes I enjoy to chat with some people. Sharing about many things. Taking a long time. But it's not often. And with blog? I express something. They read. Then they replied. I can choose time, without worrying someone standing and waiting out there for my comment - when I want to answer it. I can prepare myself for the answer. To think again sentences I'm gonna say - before I post it. For me, the words I write is reflecting who I am. People can measure me through it. How far I handle my commitment about one point of view. The more we say - the more possibility to slipped in our comments. Yes, I made mistakes. Sometimes when I read again all my posts, I thought "Oh, it shouldn't be listed there." But mostly I leave it like what it's originally posted - because it's already been posted. Let people see. See me. An ordinary person who made mistakes. And I'm still in process to be someone better. Photos.. yes I put it. I want to share places I visit and activities I do. But I try not to upload unuseful photos. :) And about contacts (friends), I try to 'see' someone who invite me - or I invite them - before agreeing the invitation. At least by visiting their blog. Mostly my friends are muslimah who also love writing. It's nice sharing with them. This blog is still young. Before making this blog, I send some of my writes through mailing list pembacaanadia@yahoogroups.com. It's mailist for the reader and writer - owned by Asma Nadia, professional writer, my inspiring woman. She's so smart, talented, and having great commitment in writing. She wins many award. Her writes is published by the biggest publisher (Gramedia) not only once - eventhough she writes with many religious contents, some kind of types that Gramedia seems very rare to get attracted. I learn many things from her. About writing, vision, point of view, commitment... And one of things I learn from her is - making blog. By blogging, we keep practicing our ability in writing, get feed back from people reading it, and evaluating our posts. I'm not posting many writes yet. But I try to post periodically. I often write, but sometimes I'm not sure to publish it - still doubting the quality of word choices, the plot, the meaning... So maybe you just find few articles there. ^_^ Some people asks me "Why do you write?" I write to send message. To make people understand a point of view. And wish.. it can make this world become a better place. There were barriers, yes. Challenges, yes. But how do we will ever through it if we never learn to defeat it? And I'm learning. So.. please. Visit me at http://intanarifin.multiply.com Wish you could enjoy it. :) Wassalamu'alaikum Wr. Wb. ----------------------------------------- One day after.. he replied it. ----------------------------------------- Assalamu'alaikum Wr. Wb. Hi, how are you? i hope you are fine, ... i really appreciate your willingness to share what your world like :) the first word came up in my mind when i read this mail is "glorious". intan arifin? if it is inspiring and motivating to improve, why not? but i still have to question this "why didnt you use your own name?" :) and i also have already viewed your blog ... which i have noticed, it is not even close to which i always assume. (about blog) i have read one of your tags and i found it educating. :) to have a dream is easy, but the difficult thing is to make it come true, as it need a lot of courage, patients, you name it ... and the walking-path to it? as far as i know i havent seen any person walks without any obstacles to his/her success, ... i should remind you though, even the slightest, smallest step could make a huge different. so be careful on how you create your future ... my best support on you, and about Yahoo Messenger, you dont have to use it if you dont like how it works, that is fine, one have his/her own reason...as you can always reach me by phone :) "may Allah bless those who remind others to be istiqamah in His path". Wassalamualaikum. ----------------------------------------- Thank you for always supporting me... It's always great to have a friend like you. Intan Arifin http://intanarifin.multiply.com |  | Pertama kalinya menginjak tanah Makassar, kesan yang didapat adalah kota yang cantik dan ramah. Orang-orangnya meskipun umumnya bicara dengan nada lebih keras dibanding orang Jawa, namun sikap mereka sangat hangat terhadap pendatang. Saya berterimakasih sekali pada teman-teman di Makassar (Kak Icha Raissah, Kak Icha Aisyah, Kak Tini, Yudi, Arwin, dan teman2 lainnya) yang sangat banyak membantu saya selama di Makassar. It was unforgettable wonderful memories... Wish I can see your beautiful city again. ^_^ |
|  | Ini acara waktu saya dan teman-teman mengundang adik-adik dari Panti Asuhan Putri Aisyiah Yogyakarta. Kagum dan salut dengan ketabahan dan semangat mereka menjalani hidup, meskipun jalan yang dilalui sangat berat bagi anak seusia mereka yang notabene semestinya masih dilingkupi kasih sayang Ayah Bunda tercinta. Semoga Allah memperkuat dan mempermudah langkah mereka dalam ridloNya... Amin. |
| Start: | Jun 19, '07 | | End: | Jun 22, '07 |
Pusat Informasi Haji Batam Jl. Engku Putri, Batam Centre  | Guestbook | |
 | Assalamu`alaikum
lam knal yach,,q itha,nak makassar
Intan jago nulis yach,,,q dah baca tulisannya dlm La Tahzan,kereennn,,,bgt
|
 | www.gudangbelanja.com Grosir dan Retail Baju Bayi, Anak-Dewasa branded Sisa Eksport & Import, Mudah, Murah Berkualitas. Transaksi Online Otomatis 24 Jam/Hari & 7 hari/Minggu. Keterangannya lengkap, banyak model, bahannya halus dan lembut. Di jamin gak akan nyesel deh....! Mampir ya ... |
 | assalamualaikum, boleh knalan khan, namaku dwi asl ponti kalbar...lam kenal aja ya...tulisannya bagus-bagus kok, ngena juga dengan pengalaman q |
 | Assalamu'alaikum mbak Intan...
Just say hai aja sih. Saya suka sama tulisan di 'La Tahzan for Broken hearted Muslimah' nya. Quite inspiring for me :-) |
 | numpang promosi nih... Bagi yang Hobi Makan..mo pesan penganan makanan khas dari Sumatera Barat ? Kami bisa bantu..Ga usah jauh-jauh kePadang.. cukup melalui Kami disini, dalam waktu 2-4 hari (tergantung jauh lokasi) maka pesanan akan diantar kerumah..Seperti : 1.Keripik balado 2. Keripik kentang balado 3. Dakak dakak 4. Rendang daging/paru/ikan tuna/telur/pakis 5. Kerupuk Jangek 6. Dendeng Daging/ Dendeng Suir balado 7. Sagun Bakar 8. Opak balado dan sebagainya... (photo-photo dapat dilihat di www.exmine6711.multiply.com) Bisa pesan melalui Hp: (0751) 8224036 (FLEXI)
Selain itu bagi yg hobi fashion, bisa juga melihat trend-trend terbaru dgn harga TERJANGKAU :1. Baju Muslim 2. Kemeja Wanita 3. Dresses dll ( model dan photo dapat dilihat di web site diatas). |
 | Tok.. Tok.. Tok... Assalaamu'alaykum... Saya mau silaturrahmi, nih... sambil bawa kue dan minuman lebaran. Uenaaak, lho... Sekalian mau minta maaf lahir & batin bila selama ini ada salah & khilaf, setulus hati, sedalam-dalamnya. Ok, selamat mencicipi...


"TAQOBBALALLOOHU MINNAA WA MINKUM"
|
 | Assalamualaikum wr wb... Aku udah baca kisah mbak...mengharukan.. Salam kenal ya mbak... |
 | Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Telah terbit buku MUSLIMAH YANG TERNODA karya MUHAMMAD NURHIDAYAT penerbit MIHRAB, JAKARTA TIMUR Buku tersebut mengisahkan penderitaan lahir-batin ribuan Muslimah korban kejahatan seksual sistematis oleh musuh-musuh Islam di Irak, Palestina, Jammu Kashmir, Arakan, dan negeri-negeri Muslim lainnya. Selain itu disebutkan sebab-sebab para Islamophobia gemar menista para Muslimah, sebab-sebab kegagalan umat Islam melindungi kehormatan saudari-saudari seimannya, serta menawarkan solusi syar'i agar kaum Muslim terhindar dari kejahatan seksual kaum kuffar. Dapatkan di jaringan Toko Gunung Agung, toko buku terdekat di kota Anda, atau jika belum ada di kota / negara Anda dapat pesan melalui internet (seperti: http://sarana-hidayah.com), bisa juga pesan via SMS 0813-8009-8660. Syukran wa jazakumullahu khairan. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh link: http://muhammadnurhidayatonline.blogspot.com |
 |
lizqy wrote on Sep 4, '08 Assalamu'alaikum Mbak Intan... Mbak, kenalan boleh nggak? Namaku Lizqy (fallinstar_24@yahoo.com). Aku tahu mbak dari tulisan mbak di La Tahzan for Brokenhearted Muslimah. Bagus Mbak... Mbak tinggal di Semarang ya? Aku juga tinggal di Semarang. Kebetulan aku anggota SEKAR (Semarang Kemudianers), komunitas pecinta sastra dari situs kemudian.com, mungkin mbak sudah pernah dengar. Boleh nggak kapan-kapan contact mbak, kita-kita di komunitas pengen banget belajar nulis dari Mbak, mungkin dengan ngadain event tertentu. Makasih ya Mbak... Sukses selalu.. Wassalamu'alaikum... |
 | assalamu'alaikum,
apa kabar dik sayang? lama tak mendapati celotehmu di milis. kirim2 kabar jika sempat ya. jadi mb tahu kamu baik2 saja di sana, dik...
semoga Allah menjagamu. amin |
 | asalamualaikum , salm kenal naldo |
 | assalamualaikum...wah senang bisa beli buku la tahzan...uhuum...kita tdk pernah sendiri y?dulu kuliah di jogja y?salam kenal...^_^_v |
 | Assalamu 'alaikum... salam kenal mb...
liat2 kerudung di MP saya ya.. tertarik??pilih2 dan order ya mb... Ada harga khusus buat mb...^_^ |
 | ass...lam knal y mba intan...skali lg febri m'dpt pljran b'hrga stlh m'bca tulisn mba. mungkin prasaan febri skg sm spt ktika prtma kali mba searching di awl th 2007... ya, tulisn mba adl artikel yg mnyntuh..."btp bgtu t'btsx kuasa manusia" thx 4 curhtx.smg dpt m'nyentuh hati pr saudari yg lain...(bangkit, dan skli lg m'bgn mimpi...).caiyooo...ntr mampir yah.. |
 | salam... kunjungan di sore hari, main ke kamr juga yaa |
| |